PERUBAHAN, KREATIFITAS, DAN PENILAIAN AUTENTIK

“Al-Muhafadzah `ala al-Qadim ash-Shalih, Wa al-Akhdu bi al-Jadid al-Ashlah”
(Menjaga tradisi/cara lama yang baik, dan mengambil tradisi/cara baru yang lebih baik)
Kutipan

Jika ada satu kekuatan yang tidak bisa kita lawan saat ini, maka itu adalah kekuatan perubahan. Siapapun yang tidak adaptif dengannya, maka siap-siaplah tertinggal dan jadi pecundang. Contoh yang saat ini lagi trend dalam konteks perubahan dalam pembelajaran khususnya di pesantren, adalah dimanfaatkannya media facebook live untuk mensharing pengajian kiayi yang dulu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang disebut santri. Trend ini terlihat meningkat dengan momentum Ramadan dimana siaran live facebook ditransmisikan dari pesantren dengan kajian bandongannya.

Membaca literatur keislaman klasik (kitab kuning) yang mentradisi di pesantren, saat ini juga bisa dinikmati oleh kalangan non pesantren. Kajian kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali oleh Ulil Abshar Abdalla (Cendekiawan Muda NU) tiap jam 21.00 dari Pesantren Raudlatut Thalibin Gus Mus di Rembang, Pengajian Prof. Said Aqil Siraj (Ketua PBNU) yang mengupas Tafsir Yasin dari pesantrennnya di Ciganjur, Pengajian bandongan oleh santri-santri di Situbondo oleh KH. Afifuddin Muhajir yang mengupas kitab turats (klasik) soal pembelajaaran yaitu kitab ta`lim muta`alim, dan masih banyak lagi live event dari dunia pesantren, yang mengindikasikan adanya perubahan pola transmisi keilmuan yang dulunya hanya bisa dinikmati segelintir santri, saat ini dengan media facebook live semua menjadi berubah.

Apa tantangan dari perubahan tersebut untuk lembaga pendidikan diniyah dan pondok pesantren?. Hal yang perlu dicermati adalah, memimjam istilah Prof. Renald Kasali adanya realitas dan problem yang selalu berubah-ubah (volatility), problem yang tidak pasti (uncertainty), bersifat kompleks (complexity), dan kemenduaan (ambiguity) atau disingkat VUCA. Empat problematka ini lambat atau cepat akan dirasakan juga oleh lembaga pendidikan diniyah, tidak terkecuali pesantren dengan segala sistem yang sudah mapan didalamnya. Artinya kompetensi ilmu agama santri yang level awalnya biasa saja, dengan adanya empat tantangan tersebut, harus sudah mulai dinaikkan levelnya menjadi luar biasa.

Perubahan lain yang tidak kalah pentingnya dicermati oleh dunia pesantren dan pendidikan diniyah adalah terbukanya kompetisi dalam beragam sektor (hyper competition), dengan dimulainya pasar bebas ASEAN, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik (ustadz, kiayi) dalam menyiapkan SDM (santri) yang siap berkompetisi dengan kompetensi dan skill yang teruji. Santri tidak cukup dibekali keilmuan kognitif, tapi keterampilan (soft skills) lain seperti keterampilan berpikir dan bertindak kritis, kreatif, keterampian berkomunikasi (lisan dan tulisan), kemampuan mengembangkan diri, menumbuhkan rasa percaya diri, keterampilan kerja kelompok dan sharing, ICT literasi sudah mulai masuk dalam kurikulum dan menjadi menu wajib pelajar pendidikan diniyah dan pondok pesantren.

Tantangan lain yang patut dicermati juga oleh pendidikan diniyah dan pondok pesantren adalah hadirnya perangkat cyber dan jejaring maya. Kehadirannya merubah semua cara, pendekatan, dan metode dalam pembelajaran, sumber pengetahuan tidak lagi satu sumber (guru–murid), tetapi multi sumber (guru, bahan digital, internet, dll), dengan beragamnya sumber, terutama internet, ilmu pengetahuan bergerak sangat dinamis dan inovatif, speed atau kecepatan ilmu pengetahuan begitu tidak terbendung lagi, ada budaya baru tumbuh yakni budaya baca meningkat, tetapi berfokus pada hal-hal yang sifatnya praktis, ringkasan dan kalimat-kalimat pendek (self centered–selfie), ini diwakili dengan gandrungnya anak-anak muda dengan twitter, whatsApp (copy-paste, sharing). Survey pengguna ponsel saat ini mencapai kurang lebih 270 Milyar di seluruh dunia, 55 Milyar pengguna internet, budaya ini harus menjadi pertimbangan bagi pendidik dalam menyusun strategi pembelajarannya. Tidak sedikit pesantren menerapkan label “haram” untuk santri memegang handphone, namun tidak sedikit pula sesuatu yang “haram” tersebut dilanggar manakala ada kesempatan dan waktu, melawan fenomena dunia cyber (dunia internet) tentu cukup melelahkan, yang lebih bijak adalah menjadikannya bagian dari wasilah/media pembelajaran bagi santri dan dunia pendidikan diniyah lainnya.
Realitas lain yang bisa dipotret terkait perubahan adalah saat ini kita masuk pada peradaban kamera (camera branding), pembelajaran bisa dilaksanakan dengan model tele conference dengan media semacam skype, video call, dan lainnya, contohnya sudah dikemukakan di awal tulisan soal pengajian bandongan dengan media facebook live. Penyimak pengajian ini bukan hanya santri yang terregistrasi di pesantren, tapi juga “santri” maya yang jumlahnya ribuan, bahkan jutaan yang tidak terregister di pesantren, tergantung yang “like” di jejaring faceboknya.

Hal lainnya yang penting dicermati akibat adanya perubahan adalah adanya ruang atau gap antar generasi semakin menganga, di satu sisi orang masih setia dengan pensil dan kertas, di sisi lain telah lahir generasi baru dengan media smartphone, generasi yang dalam dirinya telah tumbuh gen C yaitu: (connected) selalu terhubung dan bersinggungan dengan dunia lainnya melalui media jejaring, (curious) rasa ingin tahu dan usaha memenuhi rasa ingin tahu tersebut tinggi (crackers) senang melakukan percobaan-percobaan pada hal-hal yang baru (customize) memperbaharui pengetahuan sesuai perkembangan teknologi dan tuntunan keadaan. Asatidz (guru-guru) pendidikan diniyah dan pondok pesantren yang abai dengan trend ini, akan “tertinggal” oleh santrinya yang generasi milineal, generasi smartphone.

Santri pendidikan diniyah dan pondok pesantren dihadapkan pada beragamnya pengetahuan, banyak sekali pilihan sehingga jika tidak mampu mengaturnya akan menyebabkan tidak fokus dan bias (convergent knowledge integrated), pengetahuan yang sifatnya konvergen bisa diintegrasikan dan dimaksimalkan;
Kemajuan teknologi menyebabkan santri cepat menanggap informasi (information is your finger), dan ini merubah watak anak dari yang pasif menjadi anak yang aktif.

Sedemikian banyaknya tantangan, apabila tidak diarahkan dan diantisipasi dapat menyebabkan permasalahan yang besar. Tantangan-tantangan tersebut hendaknya dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam pengelolaan pendidikan diniyah. Kreasi dan Inovasi dalam memajukan dunia pendidikan diniyah agar terus dikembangkan melalui riset pendidikan, sehingga dapat dihasilkan suatu model baru manajemen pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. Para peneliti dan para ahli bidang pendidikan ditantang untuk menemukan suatu pola baru pengelolaan pendidikan berbasis pada perubahan zaman yang sangat dinamis.

Perubahan tersebut membutuhkan sejumlah kompetensi agar santri memiliki daya saing yang tinggi dalam era globalisasi tersebut. Kompetensi utama yang dibutuhkan sebagaimana dikemukakan oleh Bernie Trilling (2005) dirumuskan dalam bentuk The Seven C’s 21st Century Lifelong Skills antara lain: (1) critical thinking & doing, (2) creativity, (3) communication, (4) collaboration, (5) career & learning self reliance, (6) cross-cultural understanding, dan (7) computing/ICT literacy.

Salah satu solusi agar tidak gagap menghadapi perubahan adalah berpikir dan bertindak kreatif. Kreativitas (creativity) merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh santri pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Hasil penelitian tentang kreativitas negara-negara di dunia, sebagaimana diungkapkan oleh Global Creativity Index (GCI), dengan menggunakan tiga aspek pengukuran yaitu Technology, Talent, dan Tolerance sehingga disebut “3 Ts of Economic Development”, yang ketiganya dihitung indeksnya berdasarkan variabel pengukurannya. Untuk aspek technology, Indonesia menempati posisi ke-74 dari 75 negara yang bisa dihitung technology index-nya, sedangkan untuk aspek talent Indonesia menempati peringkat ke-80 dari 82 yang bisa dihitung nilai Talent Index-nya dan aspek terakhir yaitu tolerance, Indonesia ada pada peringkat ke-78 dari 81 negara.

Indeks kreativitas tersebut ternyata berkorelasi dengan daya saing negara. Posisi Indonesia dalam daya saing global pun tidak lebih baik, yaitu menempati peringkat ke 46 dari 142 negara berdasarkan Global Competitiveness Report2011-2012 yang dipublikasikan oleh World Economy Forum. Indeks kreativitas yang rendah tersebut selaras dengan daya saing nasional, terutama pilar kesiapan teknologi dan pilar inovasi.

Oleh karena itu, kreativitas hendaknya dibentuk dan dilatih melalui proses pendidikan. Kreativitas sangat penting dan diperlukan bagi santri karena berbagai alasan. Pertama, setiap pelajar (santri) tentu tidak pernah lepas dari masalah. Untuk mengatasi permasalahan itulah perlu kreativitas sehingga menemukan solusi yang tepat. Pelajar (santri) yang kreatif melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, sehingga dengan cara ini mereka menemukan berbagai alternatif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kemampuan dalam pemecahan masalah sangat ditentukan oleh kemampuan menggali ide-ide, metode lain, atau menggunakan pendekatan alternatif lain agar permasalahan dapat diselesaikan.

Kedua, santri juga memerlukan lahan untuk mengaktualisasikan diri. Aktualisasi atau perwujudan diri adalah salah satu kebutuhan dasar. Melalui kreativitas setiap santri dapat mengaktualisasikan dirinya dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, masyarakat, dan alam.
Ketiga, Mengejar kepuasan dan kesenangan pribadi. Tingkat kepuasan seseorang dalam beraktivitas sangat mempengaruhi perkembangan sosial emosional. Sebagian besar orang-orang yang menyibukkan diri dengan penemuan-penemuan inovatif menyatakan bahwa mereka rela mengorbankan waktunya untuk berkreativitas karena alasan kepuasan dan kesenangan saat menciptakan sesuatu yang baru.

Keempat, Meningkatkan kualitas dan taraf hidup. Santri yang mempunyai kreativitas tinggi, adalah orang-orang yang tangguh dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Santri yang kreatif dapat mengubah keadaan itu sesuai dengan keinginannya. Faktor ekonomi merupakan salah satu alasan yang memotivasi orang mengasah kreativitas. Santri yang ingin hidup lebih sejahtera dan makmur. Melalui kreativitas yang tinggi, diharapkan santri tidak saja menjadi ustad ansich, tapi juga ustad plus pengusaha, ustad plus perekayasa teknologi, ustad plus penemu ilmu-ilmu kedokteran yang canggih, atau ustad yang menciptakan produk yang sebelumnya belum pernah ada. Idealisasi ustad yang tergambar pada sosok-sosok agung semacam Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi, dll.

Kelima, Hidup lebih indah dan mudah. Santri yang kreatif biasanya cenderung bosan jika melihat atau menjumpai sesuatu yang monoton. Hidup akan lebih indah bila diisi dengan hal-hal yang bersifat dinamis dan bervariasi. Melalui kreativitas hidup menjadi lebih mudah. Orang-orang dapat berbicara jarak jauh tanpa batas, melalui internet orang-orang bisa mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia, orang dapat pergi ke suatu tempat dengan cepat menggunakan pesawat terbang, orang melakukan transaksi keuangan cukup dengan sms banking sehingga menghemat waktu dan tenaga, fenomena hadirnya sarana transportasi online, serta kemudahan-kemudahan lainnya.

Tanpa kreativitas sosok santri hanya menjadi pengikut orang lain, ia akan menjalani kehidupannya dengan datar, tanpa gairah, dan statis. Hasilnya, ia akan berkutat dalam permasalahan yang sama setiap saat sehingga kehidupannya pun tidak mengalami banyak perkembangan. Akan sangat berbahaya bila kondisi ini dimanfaatkan oleh mereka yang berideologi radikal, santri yang “tanggung” tersebut akan cenderung menjadi follower tanpa tahu apa yang diikuti tersebut benar atau salah.

Kompetensi-kompetensi abad ke-21 tersebut di atas dapat diperoleh melalui proses pendidikan dan latihan, pengalaman, dan bakat. Oleh karena itu, pendidikan pada abad ke-21 tanpa terkecuali pendidikan diniyah dan pondok pesantren hendaknya dilaksanakan dengan berorientasi pada tujuan pencapaian 7 C’s tersebut. Joke Voogt & Natalie Pareja Roblin mengemukakan bahwa untuk mencapai keterampilan 7C’s tersebut, model asesmen merupakan salah satu komponen yang sangat penting harus diperhatikan dalam penilaian pendidikan. Sesuai dengan pendapat tersebut, model penilaian dalam Kurikulum 2013 sebagaimana dituangkan dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar penilaian, bahwa model penilaian menggunakan penilaian autentik (authentic assessment) yaitu penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran. Sebagai model penilaian yang dilakukan secara komprehensif, penilaian autentik mempunyai karakteristik: (1) merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran di kelas, (2) kontekstual, dan (3) menggunakan banyak cara misalnya teknik penilaian portofolio, penilaian unjuk kerja, penilaian proyek, problem solving, dan penilaian diri.

Penilaian autentik akan melatih peserta didik untuk mengasah keterampilannya sesuai dengan tuntutan 21st century skills. Melalui penilaian autentik, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (problem-solving). Penggunaan berbagai teknik dalam penilaian autentik seperti portofolio, proyek, dan unjuk kerja akan membangun keterampilan lainnya seperti, keterampilan berkomunikasi (communication), bekerjasama (collaboration), memahami makna keberagaman/lintas etnis (cross-cultural understanding), serta meningkatkan keterampilan pemanfaatan ICT(computing/ICT literacy).

Sebagai langkah penguatan pembelajaran di kelas, model pembelajaran dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (sciencetific approach). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (sciencetific approach) dalam pembelajaran, perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bernie Trilling bahwa problem-solving, research, analysis, project, dan management merupakan komponen-komponen penting untuk membangun keterampilan Critical Thinking & Doing. Untuk mendorong kemampuan peserta didik agar menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

Implementasi pendekatan ilmiah (sciencetific approach) dalam pembelajaran merujuk pada teknik-teknik investigasi atas beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Keterampilan abad ke-21 dapat dibentuk melalui proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah (sciencetific approach).
Catatan akhir dari tulisan ini adalah, perubahan adalah keniscayaan, dan yang bisa dilakukan pendidikan diniyah dan pondok pesantren dalam menghadapinya adalah dengan senantiasa dan konsisten melakukan kreasi dan inovasi dalam beragam aspek (al-akhdu bi al-jadid al-ashlah), tentu dengan tetap berpegang pada nilai dan jatidirinya sebagai lembaga tafaqquh fi ad-din (lembaga yang melahirkan expert dibidang agama). Pelajaran agama seperti akidah, fiqih, tarikh (sejarah Islam), bahkan Al-Quran yang menjadi menu umum di pendidikan diniyah dan pondok pesantren sudah saatnya mengadopsi pendekatan dan metode penilaian autentik. Untuk Al-Quran polanya bisa min al-waqi` ila al-nash, (problemnya berangkat dari konteks kemasyarakatan kemudian baru dicarikan dalilnya dalam nash Al-Quran), atau min an-nash ila al-waqi` (berangkat dari statement nash Al-Quran, untuk menjawab problematika sosial kemasyarakat seperti yang dibicarakan oleh nash tersebut). Wallahu a`lam.

One thought on “PERUBAHAN, KREATIFITAS, DAN PENILAIAN AUTENTIK

Tinggalkan Balasan ke A WordPress Commenter Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *