PIKIRAN YANG MENCERCAP

Tulisan ini sejatinya mendaur ulang pikiran-pikiran dari sosok perempuan yang sering dirujuk dalam konteks pendidikan anak usia dini. Seorang dokter saraf berkebangsaan Italy. Maria Montessori. Gagasan mendasar yang hendak dikemukakan oleh Montessori adalah bermain bagi anak sama halnya dengan bekerja bagi orang dewasa.
Bagi anak, permainan adalah sesuatu yang menyenangkan, suka rela, penuh arti, dan aktifitas secara spontan. Permainan dapat mengaktifasi kreatifitas, pemecahan masalah, keterampian sosial baru, bahasa, dan keterampilan fisik dan motorik anak.

Hasil pengamatan Montesori di beberapa TK menunjukkan bahwa bermain merupakan kebutuhan setiap anak. Banyak anak yang tidak suka pergi ke Sekolah dan maunya bermain. Padahal orangtua menganggap Sekolah itu penting, sedangkan bermain dianggap tidak penting. Inilah kemudian yang melahirkan apa yang kita kenal saat ini dibidang media pembelajaran dengan Alat Permainan Edukatif (APE). Dengan APE, dunia bermain yang penting bagi anak-anak, dapat disinkronkan dengan kepentingan bersekolah.

Montessori mendedahkan gagasannya tentang bagaimana cara mendidik anak-anak. Prinsip umum yang dikemukakan Montessori adalah bahwa setiap anak mempunyai “penyerap pikiran”, semua anak akan melalui masa peka, semua anak ingin belajar, semua anak belajar dengan bermain, dan semua anak ingin mandiri.

Pikiran anak itu ibarat spon, yang mencercap pengetahuan apapun yang diberikan kepadanya melalui perantara permainan. Kapasitas pikiran setiap anak yang menyerap informasi apapun ke dalam pikirannya berbeda dengan orang dewasa, orang dewasa cenderung agak lambat, sementara anak sebaliknya. Deborah Stipek menyebut bahwa anak usia 0 – 7 tahun selalu berhasil mempelajari segala hal yang diberikan kepadanya tanpa mengalami kesulitan apapun.
Apakah penyerapan anak terhadap informasi tanpa adanya saringan. Menjawab pertanyaan ini Montessori berbeda pandangan dengan Jhon Locke yang mengemukakan bahwa anak itu ibarat tabularasa, kertas putih yang dapat dicorat-coret sehendak orangtuanya. Montessori mengemukakan apa yang dia sebut sebagai periode kritis Motessorri. Periode kritis atau masa peka itu maksudnya anak dapat menolak apa yang dia tidak suka, dan menerima apa yang dia suka. Masa peka itu oleh Lesley Britton dipetakan menjadi 6 periode, yaitu periode keteraturan, periode kepekaan bahasa, periode kepekaan berjalan, periode kepekaan terhadap kehidupan sosial, periode kepekaan terhadap detail, dan kepekaan terhadap kesiapan belajar.

Tiap anak mempunyai motivasi bawaan untuk belajar, oleh karenanya tiap guru tidak bisa melarang mereka melakukannya. Motivasi bawaan tersebut harus diwujudkan dalam gerakan. Gerakan yang dimaksud di sini adalah permainan. Maka tugas orangtua dan guru adalah mengaktifasi otak anak dengan memberikan keleluasaan bagi anak untuk melakukan permainan apapun yang ia suka. Perpaduan gerakan yang dapat merangsang otak tersebut adalah dua unsur penting dalam menyiapkan anak ke gerbang keberhasilan. Montessori menyebut satu unsur lagi selain aktifasi otot dan otak, yakni unsur perasaan. Ketiganya harus bekerja secara seimbang dan kompak untuk mencetak anak terampil, cerdas, dan berbudi luhur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *