SHARING

Menarik membaca kolom Bapak Rhenald Kasali di kolom Kompas tentang sharing economy, catatan yang sama juga disuguhkan oleh Heru Margianto dengan topik yang serupa walau tidak sama. Pesannya adalah “perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa dilawan”

Perubahan cara orang berbelanja dari sekedar pergi ke warung, diganti dengan cara klik di handphone, cari barang di lazada, olx, tokopedia. Perubahan dari cara orang bepergian dengan cara menyetop angkot atau taksi di pinggir jalan, diganti dengan cara klik grab taxi, gojek, uber. Sistem aplikasi berbasis internet ini adalah perubahan pada cara, namun dampakya sungguh luar biasa. Banyak yang tidak siap dan bahkan dalam konteks bisnis banyak yang hampir gulung tikar.

Saya lebih setuju kita tidak melawan arus perubahan, tidak melawan tumbuhnya beragam kemajuan dan kemudahan yang disediakan oleh internet, tapi justru kita harus mau menyesuaikan cara berpikir, cara bertindak, dan cara berperilaku dengan tetap memegang teguh prinsip kita sebagai muslim. Bukankah dalam agama ada adagium “mempertahankan yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik” bisa kita terapkan dalam hubungannya dengan kemajuan teknologi?

Saya membayangkan perubahan ini juga bisa diterapkan pada kebutuhan kita pada aspek ibadah. Semisal untuk penyediaan khatib jumat. Di beberapa masjid atau tempat shalat jumat ada keluhan khutbah jumatnya lebih tepat sebagai “bius” nina bobo siang, karena khatib yang menyampaikan khutbahnya “tidak enak”, temanya tidak aktual, tidak solutif membahas kebutuhan pendengar khutbahnya dari aspek agama, sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahkan yang lebih parah khatib bisanya hanya marah-marah, suka mengkafirkan, membidahkan golongan yang tidak seide dengan keyakinannya, bukan malah menumbuhkan persatuan antar dan intern umat beragama, memberikan wawasan dan pencerahan yang bermutu tentang agama.

Fenomena aplikasi yang digunakan dalam melayani kebutuhan akan barang dan jasa, saya rasa juga bisa diterapkan pada penyediaan khatib jumat yang bermutu baik dari cara penyampaian maupun pada aspek isi khutbahnya yang tidak sekedar berisi halal dan haram saja.

Memimpikan ada aplikasi untuk penyedia khatib jumat dengan sistem daring, guru ngaji yang professional, yang tidak saja mengerti tentang kompetensi membaca Alquran yang baik dan benar, tapi juga mengerti tentang metodologi mengajar, memahami secara detil penerapan psikologi anak. Aplikasi penyedia jasa guru agama, yang jelas riwayat belajar agamanya, tidak sekedar ustad artis yang ngajinya lewat gogle dan internet. Penyedia konsultasi permasalaahan agama yang tidak saja mengerti dan paham tafsir alquran, tapi juga mempunyai pandangan agama yang moderat dan paham akan keragaman dan cinta tanah air. sehigga kita para orangtua tidak khawatir anak kita akan dapat asupan ajaran agama dengan paham agama yang “keras”.

Apapun istilahnya, sharing economy saya rasa bisa juga diterapkan untuk bidang agama dengan istilah sharing ideology. Sebuah aplikasi yang menghubungkan kebutuhan masjid, sekolah, person, akan adanya khatib, guru ngaji, ahli agama yang berwawasan Indonesia. Para ahli agama ini bisa tergabung dalam aplikasi ini dan bisa mengisi di masjid, mushalla, tempat ngaji, madrasah, dan lembaga atau perseorangan yang membutuhkan keahlian mereka dibidang agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *